Thursday, 16 February 2017

Merangkai Cerita Inspirasi di SDN Sundul Bersama Kelas Insspirasi Magetan 4

Ikut serta dalam kegiatan kelas inspirasi bagi saya merupakan suatu hal yang membuat ketagihan. Selalu ada pengalaman baru dan berharga saat bertemu dengan orang-orang baru. Demikian juga dengan KI Magetan 4 yang merupakan KI ke-4 yang saya ikuti. Bergabung bersama dengan sahabat-sahabat rombel 7 yang kami beri julukan rombel “Sundul Gan!”, kami mendapat kesempatan untuk menginspirasi adik-adik di SDN Sundul 1 dan 2 Kecamatan Parang.
Minggu, 5 Februari 2017, saya tiba di Magetan setelah 5 jam naik bis dari Surabaya. Saya bertemu dengan Kak Yuliana, Kak Happy dan Kak Sari relawan fasilitator. Selain itu juga ada Bu Pryla, Om Wid dan Kak Arya dari relawan pengajar. Kami bertemu di pelataran  masjid agung Magetan kemudian bersama menuju tempat menginap di gedung PPI. Malamnya, kami bertemu dengan Kak Pria, Kak Nurma, Kak Eko dari fasilitator dan Kak Hery videografer. Sementara relawan lainnya akan datang besok pagi. Setelah selesai mempersiapkan keperluan untuk hari inspirasi, kami jalan-jalan sejenak, menikmati suasana malam hari di Magetan. Sesampainya kami di telaga sarangan, angin kencang pegunungan menyambut kami. Dinginnya luar biasa. Tak berlama-lama, kami segera masuk ke dalam mobil lagi dan melanjutkan perjalanan ke cemoro sewu. Di gerbang masuk pendakian Gunung Lawu ini udara dinginnya semakin menggigit kulit. Apalagi saat itu jam menunjukkan pukul setengah 12 malam. Perjalanan malam itu kami tutup dengan mampir ke warung kopi yang masih buka sambil menikmati minuman hangat, sambil ngobrol santai, menciptakan kenangan untuk cerita di hari yang akan datang.
            Senin, 6 Februari 2017. Hari inspirasi.
upacara bendera
doc kak Alvi
Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap menuju SDN Sundul 1 dan 2. Saya terkesima dengan suasana dan pemandangan pagi dalam perjalanan menuju ke SD. Pemandangan hijau membentang dihiasi kabut yang perlahan-lahan menghilang karena sinar matahari pagi dari ufuk timur memberikan sensasi pagi syahdu yang tak kami temukan di perkotaan. Ingin rasanya berhenti sejenak menikmati lukisan alam itu, namun kami juga ingin segera sampai di sekolah dan bertemu adik-adik SDN Sundul 1 dan 2. Jadi, SD Sundul 1 dan 2 ini letaknya berseberangan. Masing-masing memiliki kepala sekolah, guru, dan siswa, namun untuk hari inspirasi, dua sekolah ini pun digabung. Jumlah siswa keseluruhannya adalah 85 siswa. 
Bergabung bersama kami pagi itu, relawan pengajar lainnya, yaitu Kak Roni dan Kak Lilik, relawan fasil Kak Septian dan relawan dokumentator, Kak Alvi. Sebelum pembukaan, Bapak dan Ibu Guru menyambut kami dengan hangat, sehangat sinar matahari pagi itu. Kami awali kegiatan hari itu dengan upacara bendera. Bapak kepala sekolah, Pak Trimo, dan Bapak pengawas menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan Kelas Inspirasi dan mengajak anak-anak untuk bersemangat dalam mengikuti kegiatan hari inspirasi. Satu hal yang melekat dalam ingatan saya adalah ketika Pak Trimo mengatakan bahwa hari ini anak-anak akan dibawa ke dunia lain. Dunia profesi, dunia cita-cita dan dunia harapan tentang masa depan. Ada berbagai macam profesi dalam rombel kami, yakni desainer dan pengusaha (Om Wid), dosen bahasa inggris (Miss Pryla), pegawai bank (kak Lilik), desainer game animasi (kak Roni), Badan penanggulangan bencana (Kak Aria) dan saya sebagai tutor bahasa prancis. Setelah perkenalan dan supaya suasana semakin meriah, kami melakukan senam gemufamire yang dipimpin oleh kak Pria dan juga ice breaking “penyerapan energi matahari” yang dipandu oleh kak Aria. Adik-adik terlihat sangat senang dan bersemangat, tak ketinggalan pula bapak ibu guru serta para relawan.
bersama murid kelas 2
doc : kak nurma
Di mana negara Indonesia?
doc: kak alvi
Pada sesi pertama, saya mendapat kesempatan masuk di kelas 2. Untuk hari inspirasi kali ini saya ditemani dua kartun pahlawan dari Prancis, yakni Asterix dan Obelix dalam bentuk wayang. Kali ini saya mengajak adik-adik belajar di luar ruang kelas agar mereka merasakan suasana belajar yang berbeda, diibaratkan mereka sedang rekreasi ke prancis. Sebelum meninggalkan kelas, saya ajak mereka berkenalan dengan negara yang masih asing bagi mereka itu dengan miniatur menara eiffel, warna bendera, dan peta. Tentu saja tak lupa saya tanyakan juga kepada mereka tentang landmark Indonesia (monas), bendera dan bentuk negara Indonesia pada peta dunia untuk menambah kecintaan pada Indonesia. Mereka mendapatkan tiket berupa gambar menara eiffel yang nantinya harus mereka warnai. Berbaris rapi saat keluar, mereka menyanyi lagu kereta api dengan bersemangat. Di halaman sekolah yang teduh, kami duduk melingkar dan saya menceritakan beberapa tempat wisata pada anak-anak kemudian mereka melakukan aktivitas mewarnai. Murid-murid kelas 2 ini sangat aktif dan enerjik. Mereka sangat bersemangat dan membuat saya juga ikut bersemangat. Untuk sesi kedua, hampir sama dengan sesi pertama, hanya berbeda pada aktivitasnya karena saya masuk di kelas 5. Mereka berpasangan mempraktekkan cara berkomunikasi, menyapa (bonjour) dan mengucapkan terima kasih (merci) dalam bahasa prancis. Murid-murid kelas 5 lebih tertib dan mereka sangat antusias dan mudah diarahkan. Mereka juga cukup kritis dan memiliki semangat belajar yang bagus.  Semoga kelak mereka dapat mewujudkan cita-citanya. Aamiin.
bersama murid kelas 5
doc : kak alvi
berlatih menyapa "bonjour"
doc : pribadi
Sebelum penutupan, kami semua berkumpul di halaman sekolah untuk menyaksikan simulasi penanggulangan bencana kebakaran dari kak Aria. Adik-adik dan bapak ibu guru diberi kesempatan untuk mencoba memadamkan kebakaran dengan kain basah dan APAR. Mereka sangat senang karena pengetahuan seperti ini sangat penting. Untuk penutupan, kami menempelkan bintang cita-cita pada banner KI yang bertemakan luar angkasa dilanjutkan dengan menerbangkan pesawat kertas dengan harapan adik-adik dapat bercita-cita tinggi dan berusaha untuk menggapainya. Ditutup dengan doa dan foto bersama, kami bersalam-salaman dengan adik-adik sambil membagikan bingkisan alat tulis.
simulasi tanggap bencana kebakaran
doc : pribadi
Kami bersyukur acara hari inspirasi ini berjalan dengan lancar. Hal ini tentu saja berkat dukungan serta kerjasama antara pihak sekolah dan para relawan kelas inspirasi Magetan 4. Mereka yang rela menyisihkan waktunya, jauh-jauh dari berbagai kota untuk berbagi inspirasi bersama. Saya terharu dengan apresiasi pihak sekolah, yang tidak hanya menerima kami dengan hangat, namun juga menyediakan berbagai macam konsumsi serta buah tangan. Suatu rezeki yang harus disyukuri. Tak hanya itu saja, kami juga terinspirasi dengan dedikasi bapak ibu guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun untuk mendidik anak-anak bangsa. Mengikuti kegiatan kelas inspirasi memang tak dibayar dengan materi, namun kami memperoleh lebih dari materi. Mempererat tali silaturahmi, mendapat saudara baru, mendapat semangat dan inspirasi baru, mendapat pengalaman baru, serta mengenal daerah baru. Acara KI Magetan hari itu ditutup dengan refleksi tak jauh dari lokasi sekolah. Kami bertemu dengan para relawan lainnya dari berbagai macam kota dan profesi. Kami berharap bisa bertemu lagi di kesempatan lainnya.
Teringat sebuah kutipan dari Maya Angelou, seorang penulis, “When you learn, teach. When you get, give. Saat kita belajar, ajarkanlah. Saat kita mendapat sesuatu, berbagilah.” Karena ilmu yang diamalkan dan dibagikan tak akan pernah habis. Dan semoga menjadi ilmu dan amal yang bermanfaat kelak. Aamiin. Terima kasih rombel 7, SDN Sundul 1 dan 2. Terima kasih Kelas Inspirasi Magetan 4.
Witing nginspirasi jalaran saka kelas inspirasi.
12022017



 
bersama relawan, guru dan murid SDN Sundul
doc : kak Alvi

para relawan rombel Sundulgan! :D
doc : miss pryla








Friday, 2 December 2016

Derap Simfoni Inspirasi di SDN Curahtakir 6 - Kelas Inspirasi Jember 4

Selamat Datang di Sekolah
Doc : pribadi.  

Departure – Arrival
Kelas Inspirasi Jember 4 di akhir bulan November 2016 ini adalah salah satu agenda yang saya nanti-nantikan. Setelah minggu yang padat merayap, maka kegiatan positif di akhir pekan yang kabarnya juga akan diadakan rekreasi ke pantai teluk Love ini  membuat saya sangat bersemangat. Maklum sudah lama tidak ke pantai. Berbekal sebuah tas ransel, jaket, roti untuk makan malam dan rasa antusiasme untuk bertemu dengan orang-orang baru yang sehari-hari hanya saling berkomunikasi di grup whatsaap, saya pun tetap berangkat walau hujan masih mengguyur langit Jombang malam itu.  Setelah 1,5 jam perjalanan bis dari Jombang – Surabaya, saya menunggu kawan-kawan baru yang akan berangkat bersama ke Jember di ruang tunggu terminal Bungurasih. Tepat pukul 12 malam, kami ber-9 naik bis tujuan Jember dan akan turun di terminal Tawang Alun. Ada Kak Ajeng, Kak Forman, Kak Zaqi, Kak Hanif, Kak Not, Kak Ain, Kak Ica, dan Kak Satriyo. Tak lama setelah bis berjalan, saya sudah tertidur. Tentu saja saat itu kami tidak bisa tidur nyenyak dan seringkali terbangun. Sesampainya di terminal Tawangalun, jam sudah menunjukkan pukul 4.30, bertepatan pula dengan pesan dari Kak Gyas selaku panitia yang menanyakan keberadaan kami. Saya salut dengan para panitia KIJ 4, mereka memastikan kami, para relawan dari luar kota Jember mendapatkan akomodasi yang baik. Terima kasih ya Kak Bastomy dan Kak Gyas sudah menjadi KI-Jek pagi-pagi, padahal mereka sendiri juga harus segera mempersiapkan briefing pagi di SMAN 1 Jember.   

Briefing

Saya dan Kak Ajeng transit di rumah Kak Talita, fotografer rombel kami, rombel 6. Saya bertemu dengan Kak Farida yang sudah datang tadi malam. Kami dijamu dengan sangat baik oleh keluarga Kak Talita. Setelah bersih diri, kami menghadiri briefing di aula SMAN 1 Jember yang tak jauh dari sini. Ternyata para relawan telah banyak yang berdatangan dari berbagai macam profesi dan kota. Saat itu ada Kak Anggi dan Kak Nadzir yang menjadi MC. Iya..Kak Nadzir yang koordinator rombel kami, yang selalu ngasih semangat dan selamat pagi di grup, yang  selalu ngajak VM dan menawari anggota grup untuk jadi moderator tapi nggak ada yang angkat suara akhirnya dia sendiri yang memoderatori hihihi.
doc : panitia. Relawan dan panitia KIJ 4
Acara dibuka oleh sambutan dari koordinator KIJ, Kak Dini Optimasi. Semakin terasa istimewa, ketika hadir pula Bapak dan Ibu Wakil Bupati Jember serta kepala sekolah untuk membuka acara briefing ini. Beliau sangat mendukung adanya Kelas Inspirasi Jember ini.  Dukungan tersebut adalah sebuah bukti bahwa pihak pemerintahan  dapat bersinergi dengan komunitas relawan. Setelah acara formal selesai, briefing semi-formal dipandu oleh Kak Bastomy alias Bapak Kije. Mulai dari apa itu kelas inspirasi, 7 sikap dasar, sekolah zona inspirasi, dan berbagai serba-serbi tentang Kelas Inspirasi. Hal ini sangat penting untuk diketahui para relawan, terutama para relawan yang baru bergabung dengan kelas inspirasi agar dapat memiliki pandangan seperti apa tentang Kelas Inspirasi.  Tak hanya itu saja, para relawan juga dibekali dengan materi persiapan Hari Inspirasi. Untuk relawan pengajar mendapatkan pengarahan dari Kak Diah yang merupakan alumni Pengajar muda Indonesia Mengajar tentang tips dan trik untuk mengajar anak-anak SD dengan menyenangkan. Ini juga sangat penting, terutama untuk relawan pengajar yang sehari-hari tidak berinteraksi dengan anak-anak di dalam kelas. Walaupun kami telah mendapatkan modul tetapi akan lebih berkesan dan lebih jelas jika dijabarkan oleh yang berpengalaman.  Sedangkan untuk relawan dokumentator mendapatkan pengarahan dari Kak Gyas yang juga telah berpengalaman di bidang dokumentasi. HAP! Setelah briefing utama selesai, kami melanjutkan dengan briefing per rombel. Akhirnya kami bertemu dengan beberapa anggota rombel 6. Ada Kak Elia, fasilitator kami yang sangat bersemangat, Pak Isma, Kak Asih, Kak Not, Kak Farida, Kak Nadzir, dan Bu Evin.  Sebenarnya ada 16 orang di dalam rombel kami, namun hanya beberapa yang bisa mengikuti briefing. Setelah berdiskusi singkat, kami sepakat untuk berangkat setelah sholat jumat.  Semangat ya kakak-kakak hebat! (nge-rhyme euy!)  
Separuh personil rombel 6. Doc : Kak Not


Menuju Lokasi
Sekolah yang menjadi zona inspirasi rombel kami adalah SDN Curahtakir 6 di Desa Tempurejo, Jember Selatan. Konon kabarnya, sekolah kami mendapat rangking ke-6 dari 16 sekolah yang diurutkan dari sekolah yang memiliki akses tersulit. Untuk sekolah dengan akses dan medan paling ekstrim adalah rombel 1, yakni SDN Andongrejo 4 di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Nah balik lagi ke rombel kami karena searah, rombel kami berangkat bersama rombel 5 yang mendapat SDN Curahtakir 2. Setelah acara ngetem di depan indomaret menunggu personil lengkap, akhirnya saya bersama kak Talita, Kak Elia, Kak Nastiti, Kak Asih, Kak Not, Kak Ega, Kak Nadzir, Kak Farida dan Pak Isma berangkat beriring-iringan naik motor ke lokasi. Sempat deg-degan juga karena saya nggak pakai helm sementara hujan tak kunjung reda. Selama perjalanan saya sempat memperhatikan beberapa nama daerah yang sama dengan daerah di Malang, seperti Sumbersari dan Kebonsari.  Kami berangkat dari kota, kemudian melewati sawah dan ladang, kemudian perkebunan milik PTPN yang tampak seperti hutan dengan kanopi yang membuat sepanjang jalan terasa gelap. Akhirnya rombel kami dan rombel 5 harus berpisah di SDN Curah takir 2. Sementara itu, kami masih harus kembali meneruskan perjalanan ke jalanan menanjak yang mulai berbatu dan tanah yang licin karena hujan.  Di jalan ini saya dan Kak Talita nyaris oleng di jalanan menurun. Saya yang teringat pengalaman saat touring dan terjatuh dari motor di medan seperti ini segera turun dari motor dan memilih berjalan kaki. Saya harus ekstra hati-hati karena saya memakai sandal karet yang ternyata sangat licin jika dipakai di medan seperti ini. Akhirnya saya bertukar posisi dengan Kak Nastiti. Saya melanjutkan perjalanan dengan Kak Elia. Fasilitator rombel kami ini meskipun kecil tapi tangguh dan sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Setelah melewati jalanan makadam, sampailah kami di tepi sawah yang berlatar gunung berkabut. Kak Elia sampai menghentikan motornya agar saya bisa mengambil foto karena sebelumnya saya sempat heboh melihat pemandangan di depan mata itu. 

doc : pribadi . pemandangan berkabut  yang menyambut kami
















Setelah 2 jam perjalanan, kami sampai di SDN Curahtakir 6. Sampai di sini, sinyal HP saya sudah tak terdeteksi lagi. Kami sempat menjumpai adik-adik yang sedang bermain di tepi sawah. Mereka tampak senang dan bersemangat ketika saya beri tahu bahwa besok kami akan bertemu di sekolah. Saya yakin mereka sedang bertanya-tanya siapa kami dan dari mana, namun masih malu-malu. Kami disambut oleh Bapak Kepala Sekolah, Pak Bonari Untung, yang tinggal di rumah dinas di samping sekolah. Kami pun mempersiapkan perlengkapan untuk besok seperti memasang banner dan menata ruang untuk istirahat kami di perpustakaan yang ternyata sudah disediakan kasur. Sementara untuk relawan putra menginap di musola sekolah. Kami juga mempersiapkan atribut headpiece yang kami buat dari kertas koran dilengkapi dengan daun kertas sejumlah siswa, 215 orang. Cukup banyak juga ya siswa di sini.
 Selesai sholat maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang disediakan oleh keluarga Pak Untung. Kami sampai tak percaya, ini masakan ala katering kondangan. Ada sate, gule, makaroni tempura, dan daging empal. Alhamdulillah, nikmat sekali makan bersama di teras dengan pemandangan gunung dan hutan di ujung sana. Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi sambutan dan keramahan keluarga Pak Untung. Saya juga bersyukur dipertemukan dengan keluarga rombel 6 yang baru hari ini bertemu namun segera akrab satu sama lain bagai saudara. Setelah perlengkapan untuk atribut selesai, kami pun berlatih senam pinguin untuk besok pagi. Untungnya Pak Isma membawa laptop dan LCD projector membuat kami semangat berlatih. Tak lama datang satu personil kami, Kak Adi Nera, fotografer paparazi rombel kami. Selesai senam, akhirnya kami bisa beristirahat. Di antara KI sebelumnya, malam itu saya tidur lebih cepat dan lebih nyenyak. Mungkin sudah mulai terbiasa dengan jam kritis H-1 Hari Inspirasi.




Doc. pribadi : Hari Inspirasi 26 November 2016



Selamat pagi! Akhirnya Hari Inspirasi pun tiba! Jeng..jeng..jeng...jeng..
Pagi-pagi sekali, murid-murid SDN Curahtakir 6 sudah berdatangan dan mulai piket, menyapu kelas dan halaman sekolah. Mulai murid kelas 1 – 6 bergotong royong membersihkan sekolah. Sementara itu di halaman sekolah, gerimis mulai turun rintik-rintik. Kami khawatir bagaimana jika hujan? Apakah senam penguin yang telah kami persiapkan semalam tidak jadi ditampilkan? Selesainya sarapan di rumah Pak Untung, kami kembali ke halaman dan Alhamdulillah gerimis reda dan kami membuka pagi itu dengan perkenalan dan senam penguin yang diikuti oleh adik-adik dengan antusias. Ohya pagi ini, personil kami lengkap, ditambah dengan Pak Adi yang datang jam 3 pagi dan Bu Evin yang datang pagi ini. Rombel 6 siap beraksi menginspirasi adik-adik kelas 1-6 SDN Curahtakir 6. Yeyyy!!!
Doc. Kak Adi_nera_  

Doc. Kak Adi_nera_ 
Perkenalan : Di rombel kami ada 16 personil namun yang bisa hadir hanya 13 orang. Kak Elia dan Kak Nadzir sebagai fasilitator kami, dan Kak Felia (yang hari ini tidak bisa hadir), dan 1 orang lagi yang saya nggak tahu orangnya yang mana hihi. Kemudian untuk relawan pengajar ada, saya, Kak Nita yang akrab disapa Kak Not (staf pajak), Kak Asih (perawat), Kak Nastiti (arsitek), Kak Evin (terapis anak berkebutuhan khusus), Pak Isma (penyuluh PLKB), Pak Adi (programmer), dan sebenarnya ada satu lagi namun tidak hadir. Untuk tim dokumentator ada 4 orang, Kak Talita, Kak farida, Kak Adi Nera, dan Kak Ega sebagai videografer.  Syukur Alhamdulillah cuaca kembali cerah. Akhirnya para penguin eh para relawan dan adik-adik dapat beraksi untuk senam penguin.



Doc. Kak Adi_nera_ Relawan dan bapak-ibu guru


Setelah itu kami masuk ke kelas yang telah dipersiapkan. Kali ini saya kebagian kelas 4, 6 dan back up kelas 2.  Murid di sekolah ini memang cukup banyak, 1 kelas saja ada yang 37. Seperti sebelumnya, untuk kelas 4 dan 6, saya selalu mengajak adik-adik untuk yel-yel dan bernyanyi terlebih dahulu, kemudian lanjut jalan-jalan keliling dunia via peta hehehe. Ketika saya mengeluarkan miniature menara Eiffel, topi baret, dan bendera, mereka serempak bilang : Paris!! Paris!! Ikonik sekali memang ya. Dari situ saya ajak mereka mengenal salah satu Negara di benua Eropa tersebut sambil tak lupa menunjukkan gambar tempat-tempat wisata, pegunungan salju dan juga orang-orangnya serta bahasa prancis umum untuk Selamat pagi (Bonjour) dan terima kasih (merci). Tak lupa saya juga menjelaskan tentang ikon (landmark) dan budaya Indonesia.  Dan karena stock sticker saya masih banyak, saya bagi-bagikan kepada mereka. Senang sekali melihat mereka antusias seperti itu. Saya juga memperkenalkan pada mereka bahwa dari belajar bahasa, ada banyak profesi yang dapat mereka lakukan selain menjadi pengajar, seperti halnya penulis buku, penerjemah, dan pemandu wisata. Harapan saya semoga mereka tergerak untuk bercita-cita lebih luas dan lebih tinggi. Demikian juga saat masuk di kelas 2. Saya tidak bisa mengajarkan tentang peta pada mereka, saya ajak mereka bernyanyi dan menari poki-poki, lalu berkelompok untuk menggambar cita-cita mereka. Di kelas ini saya bertransformasi menjadi pelukis hihihi. Masih dengan baret merah yang selalu identik dengan pelukis, saya menggambar seorang pelukis di papan tulis. “Bu Anna, gambar dokter gimana? Gambar tentara gimana?” Wow! Akhirnya saya ajak lagi mereka menggambar orang dengan lagu lingkaran kecil-lingkaran kecil-lingkaran besar dst kemudian diberi pernak-pernik, seperti stetoskop, pistol dll. Sekilas, aktivitas menggambar memang tampak mudah, namun saat harus mengajari cara menggambar, di situlah keimanan dan kesabaran Anda diuji..huhuhu. Luar biasa saat saya harus lari ke sana-ke sini, ada yang minta pensil warna, ada yang minta selotip, ada yang tanya “Bu seperti ini? Bu saya warna ya?” Iya Nak..Iya…terserah kreasi kalian ya. Dalam hati saya berujar, “Terpujilah wahai Engkau Bapak Ibu Guru, terutama guru kelas 1 dan 2”


Doc. Kak Adi_nera_  Kelas 6
Doc. Kak Adi_nera_  kelas 4
Doc.pribadi  Karya kelas 2



Di saat istirahat, anak-anak tak membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Mereka mendatangi kami sambil bertanya dan berdiskusi macam-macam. “Kalian setelah ini mau melanjutkan ke SMP mana?” tanya saya kepada siswa kelas 6 di sela-sela perbincangan kami. “Mondok, Bu.” “Ke MTS, bu”. Alhamdulillah... “Ibu doakan lancar ya ujiannya, dan semoga bisa masuk di sekolah yang diinginkan.”  Tak lama setelah itu, ada seorang anak bernama Mona, gadis cilik ini adalah anak berkebutuhan khusus. Kami tidak saling mengenal, tiba-tiba dia memeluk saya. Beruntung tadi Bu Evin telah memperkenalkan di awal, jadi saya tidak terlalu kaget. Ini pengalaman pertama saya berinteraksi langsung dengan ABK. Tatapan matanya jujur. Ia paham ketika saya ajak bicara, namun ia tak bisa mengungkapkan seperti anak-anak lainnya. Di situ perasaan saya mulai teraduk-aduk, terharu, apalagi saat saya ajak bergabung dengan kerumunan teman-temannya yang sedang menyanyi Indonesia Raya, Padamu Negeri, dan Guruku Tersayang. “Mona ikut nyanyi ya, sayang.” Ia mengangguk dan masuk di kerumunan tersebut. Kemudian tersenyum ke arah saya. Ya Allah..rasanya mata saya sudah berkaca-kaca menahan haru. Beberapa bulan lalu, saya pernah punya keinginan untuk berinteraksi dengan anak-anak ABK, bahkan saya sempat bertanya kepada orang-orang yang berkecimpung dengan dunia anak tentang anak ABK ini. Saya ingin menyelami dan memahami dunia mereka yang kadang tak terpahami oleh orang-orang di sekitarnya. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang di sini. Saya juga belajar banyak dari kakak-kakak relawan di sini.
doc : kak Talita  . Suasana istirahat




Sayang sekali hari inspirasi ini hanya sehari saja. Tibalah kami harus berpisah dengan adik-adik. Setelah menempel bunga cita-cita di pohon cita-cita, kami mendapat kejutan. Tim marching band, colour guard dan tim penari keluar mempersembahkan penampilan terbaik mereka. Saya kira mereka tidak akan tampil karena hari sudah mulai siang. Meski panas terik dan membuat peluh kami bercucuran, semangat mereka untuk menampilkan yang terbaik memberikan kebahagiaan tersendiri. Akan sangat biasa melihat penampilan marching band di SD perkotaan, namun mengingat kembali medan yang kami lalui kemarin untuk sampai ke sini, ini merupakan hal yang luar biasa. Kami para pengajar merasa terharu dan bahagia, bahkan kami bersama-sama ikut menari bersama mereka. Ceria bersama sebelum kebersamaan kami harus berakhir siang ini. Sekitar 3 lagu mereka persembahkan untuk penutupan yang manis ini. Dan lagu terakhir adalah lagu india favorit saya : tumhihoooo~ :D Salut dengan pelatihnya yang telah sabar dan telaten membimbing adik-adik hebat ini. Semoga suatu hari nanti mereka dapat menjadi musisi yang handal.


doc : Kak Adi_nera



doc : Kak Adi_nera . Karya Siswa

doc : Kak Adi_nera. Ceria bersama



doc : Kak Adi_nera. Menari bersama




Doc : pribadi. Marching band

Setelah bersalam-salaman dan berfoto bersama, Pak Untung menawari kami makan siang. Sangat syahdu makan siang bersama-sama, dibelai angin sepoi-sepoi kaki gunung, melihat pemandangan hijau di puncak gunung yang mulai dihiasi kabut tipis (sayangnya saya lupa menanyakan itu gunung apa). Kesederhanaan, sambutan yang hangat, keramahan, dan kebersamaan ini membuat saya akan merindukan moment satu hari berbagi, selamanya nggak bisa move on ini. Setelah ishoma, kami pun segera meluncur ke pendopo Balai desa Pondokrejo, berkumpul bersama kawan-kawan kami dari rombel lain untuk melaksanakan agenda terakhir : Refleksi. Kami berpisah dengan Pak Untung di Balai desa karena beliau mengantarkan kami yang kekurangan armada.
Sesampainya di lokasi, sudah ada beberapa relawan yang datang. Tampak kawan-kawan dari rombel 1 yang pakaiannya penuh lumpur dan sangat kelelahan menghadapi medan yang fenomenal itu. Saat refleksi masing-masing rombel harus menceritakan sedikit pengalaman dan pesan kesannya serta menampilkan yel-yel hebohnya. Hari sudah sore dan mendung, situasi sudah kacau dan para relawan sudah mulai tidak fokus karena mereka harus segera kembali pulang jika tidak ingin terjebak hujan deras. Akhirnya setelah penutupan, kami saling berpamitan, dan berharap semoga bisa bertemu kembali. Ada sedikit kehilangan meski hanya 2 hari bersama mereka, terutama rombel 6. Kami memang baru saja kenal, namun entah mengapa seperti sudah lama saja. Kekompakan dan kebersamaan itu, melewati kesulitan dan membuat cerita bersama dan menorehkan kenangan. Mungkin karena persamaan tujuan dan bisa dibilang kami berada dalam frekuensi yang sama dalam lingkaran positif bernama Kelas Inspirasi. Kami datang membawa sebuah misi, pulang membawa ratusan inspirasi, menambah relasi dan tentu saja tak lupa kami ucapkan beribu terima kasih untuk keluarga besar Kelas Inspirasi Jember 4. Terima kasih saudara-saudara rombel 6. Terima kasih SDN Curahtakir 6.  Dan langit senja sore itu menjadi lukisan penutup hari inspirasi kami. Semoga senyuman kembali terlukis di wajahmu ketika mengingat hari ini. Semoga kita dipertemukan lagi, suatu hari nanti.
Salam Inspirasi


Jombang, awal Desember 02122016

Doc.Pribadi . Senja Penutupan KIJ 4










                 

Saturday, 19 November 2016

Memetik Inspirasi di Kelas Inspirasi Malang 4


               
              Kelas Inspirasi Malang 4 ini merupakan kelas inspirasi kedua yang saya ikuti. Sebelumnya saya mengikuti KI di kota tempat saya bekerja, KI Jombang 3.  Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari KI Malang karena dengan adanya KI Malang ini dapat menjadi wadah bagi saya untuk mengabdi pada kota kelahiran saya.  Saya yakin setiap kelas inspirasi memiliki keunikan dan ceritanya masing-masing. Untuk kali ini, tagline kami adalah "Memetik Inspirasi".


             Oleh karena itu, saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan teman-teman relawan yang sebelumnya tak saling mengenal, hingga kemudian bisa menjadi sebuah keluarga karena memiliki kesamaan tujuan dan semangat untuk menginspirasi.    Rombel kami terdiri dari 5 pengajar yaitu saya, Kak Lauren, Kak Candy, Kak Nisa dan Kak Fitri. Selain itu juga ada 3 orang fasilitator, yakni Kak Aya, Kak Mila dan Kak Fajri. Tak lupa tim dokumentator didukung oleh Kak Hari, Kak Jeri, dan Kak Ilham.
foto bersama siswa dan guru-guru SDN Sumberpetung 3
               
             
                  Sebelum Hari Inspirasi, kami melalui hari briefing di pendopo kabupaten malang. Jujur saja saya baru kali ini masuk ke pendopo kabupaten, padahal selama ini seringkali hanya lewat di depan gerbangnya saja. Hehehe. Saat itu saya bersama dengan kawan satu rombel di KI Jombang, kak Nindia, namun kami berbeda rombel. Ada beberapa kawan saya di FIB yang juga mengikuti kegiatan ini, Yosua dan Annisa (adik kelas di sastra prancis) dan Fifi, sahabat saya di LPM Mimesis sekaligus yang memperkenalkan saya pada keberadaan Kelas Inspirasi :) Saya senang sekali setiap kali bertemu dengan orang baru, karena saat itu saya dapat belajar banyak dari pengalaman mereka dari beraneka ragam profesi dan latar belakang.
                 Mengenai lokasi sekolah, sebelumnya saya tak tahu di manakah letak SDN Sumberpetung 3 ini. Sekolah ini terletak di daerah Kalipare, dekat dengan waduk karangkates. Kami membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai tujuan dari pusat kota. Jalan yang kami lalui masih cukup bagus dan beraspal. Jam menunjukkan pukul 19.30 ketika kami sampai di lokasi setelah sempat tersesat karena kondisi jalan yang gelap. Beruntung kami mendapat tumpangan menginap di rumah salah satu guru, Bu Yuliati, yang sangat dekat dengan lokasi sekolah sehingga kami dapat mempersiapkan berbagai persiapan  untuk hari inspirasi keesokan harinya dengan baik.  Selain itu, kami juga saling mengakrabkan diri antar relawan supaya dapat bekerja sama pada saat hari inspirasi dengan lancar.  Kami memang sepakat tidak mengadakan kegiatan petik inspirasi karena kami baru dapat berangkat sore hari, menunggu personil kami yang datang dari luar kota.

upacara bendera
                Hari Inspirasi, 7 November 2016 adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Kami disambut dengan hangat oleh Bapak Kepala sekolah, Pak Supriyadi, beserta bapak-ibu guru. Ada 7 guru yang mengajar di sekolah ini dan harus mengajar 125 anak dari kelas 1-6. Kegiatan kami dibuka dengan upacara bendera hari senin. Terharu rasanya melihat adik-adik belajar menjadi petugas upacara, mengingatkan saya pada masa-masa ketika saya SD, 15 tahun yang lalu. Setelah dipersilakan oleh bapak kepala sekolah, kami mulai menyapa adik-adik, mengenalkan jargon kelas inspirasi dan jargon untuk sekolah, memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan senam bersama (lagu chicken dance). Murid-murid tampak sangat antusias dan bersemangat. Setelah itu kami mulai masuk kelas masing-masing. Untuk urutan pertama saya mendapat kesempatan untuk mengajar murid kelas 6. Saya ajak ketua kelas untuk memimpin teman-temannya meneriakkan jargon dan yel-yel sekolah: “SDN Sumberpetung 3, mana semangatnya? Pasti bisa, harus bisa, luar biasaaa!!” Tentunya dengan gerakan tangan agar mereka lebih bersemangat. 

senam chicken dance dulu yuk
          Sebagai pengajar bahasa prancis, saya mulai memperkenalkan tentang peta dunia dan menanyakan di mana letak Negara Indonesia dan letak Negara Prancis, warna bendera masing-masing, icon landmark masing-masing (monas dan menara Eiffel), topi khas masing-masing (saya membawa topi khas prancis dan gambar orang-orang prancis dengan topi khasnya), makanan pokoknya, serta cara mengucapkan selamat pagi. Agar mereka semakin bersemangat, saya ajak untuk membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu balonku untuk menentukan giliran pertama sebagai contoh untuk latihan mengucapakan kata “BONJOUR” (selamat pagi) dan MERCI (terima kasih). Sebagai apresiasi, saya berikan sticker dengan tulisan bonjour untuk anak-anak. Kemudian mereka berpasangan untuk belajar berdialog sederhana mempraktikkan 2 kata tersebut. Tampak mereka sangat senang, demikian juga dengan saya. Aktivitas tersebut saya terapkan pada kelas 4-6. Untuk kelas 3, aktivitas yang saya terapkan bukan latihan berdialog namun mewarnai gambar landmark. Saya beri pilihan menara Eiffel dan monas. Mereka dapat menyelesaikan dengan cepat dan sangat senang. Suatu hari semoga mereka bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana. Sayang sekali, saya tidak berkesempatan mengajar kelas 1 dan 2 karena mereka sudah pulang.
bersama kelas 5
ceria bersama anak-anak kelas 3

                Hal yang dapat saya tekankan pada anak-anak adalah, mereka harus berani bermimpi dan memiliki cita-cita yang tinggi. Kebanyakan dari mereka bercita-cita pada umumnya seperti dokter, polisi, tentara, guru. Namun kini mereka dapat belajar mengenal ragam cita-cita lainnya, dalam rombel kami ada juga profesi akuntan, perawat, dosen elektro dan pegawai PT KAI. Mereka boleh saja nanti belajar atau bekerja di mana saja, namun jangan pernah lupa kembali ke Indonesia, khususnya ke desa mereka untuk membangun desa demi kemajuan negeri tercinta. Mereka juga menempelkan nametag dengan tulisan cita-cita berbentuk apel di pohon cita-cita yang telah kami sediakan. Semoga sedikit pengalamaan, ilmu, dan keceriaan yang kami dapat bagikan hari ini bisa bermanfaat kelak bagi masa depan mereka.  Hari inspirasi ditutup dengan sambutan dari kepala sekolah, dari relawan, penyerahan souvenir berupa bibit tanaman, menerbangkan origami cita-cita, bersalam-salaman serta berfoto bersama. Meski lelah kami sangat bahagia bisa berbagi dan menginspirasi anak-anak. Semangat dan antusiasme mereka juga menginspirasi kami agar lebih bersyukur dan lebih berusaha untuk memberi manfaat untuk negeri.  
             
pohon cita-cita
Calon pelukis muda Indonesia :)
             Tak hanya itu, kami juga mendapat oleh-oleh dari perbincangan bersama bapak-ibu guru yang telah mengabdi di sekolah ini puluhan tahun, bahkan sejak kami belum lahir. Sungguh luar biasa perjuangan beliau, bahkan ada beberapa guru yang harus merangkap mengajar beberapa mata pelajaran karena keterbatasan jumlah guru. Dedikasi mereka yang tak kenal lelah itu semoga dicatat sebagai amal yang tiada henti dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Mereka pun tak lupa untuk mendoakan kami agar cita-cita kami tercapai.  Terima kasih Bapak-Ibu guru, terima kasih murid-murid SDN Sumberpetung 3, terima kasih para relawan semua dan tentu saja terima kasih Kelas Inspirasi Malang atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk terlibat dalam lingkaran positif ini. Semoga kegiatan ini selalu berlanjut dan banyak memberi manfaat bagi banyak pihak. 

Salam Inspirasi! 







suasana berpamitan


para relawan KI Malang 4


Bersama para relawan KI Malang 4 saat briefing

Cekrek dulu sebelum berpisah :) 



Kelas Inspirasi 3 Jombang (Kijo 3) Rombel 10


Saya pernah berjanji untuk menuliskan pengalaman saya bergabung dalam kelas inspirasi. Mengumpulkan mood untuk menulis memang tidak mudah bagi saya saat ini di sela-sela menyelesaikan pekerjaan. Namun izinkan saya menuangkan kembali sebelum memori yang seperti butiran pasir ini hilang ditiup angin rutinitas. Hehehe.

Persiapan H-1 menuju hari inspirasi yakni hari Minggu, 24 April 2016, kami berkumpul di RBGM atau Rumah Baca Gang Masjid yang terletak di sebelah Masjid Jami Jombang, Alun-alun Jombang. Dulu saya pernah mempunyai keinginan untuk mengunjungi rumah baca ini, namun baru kali ini bisa berkunjung, menyenangkan sekali ternyata. RBGM ini juga digunakan sebagai basecamp kawan-kawan Kijo untuk mempersiapkan segala kebutuhan pada hari Inspirasi nanti.

Setelah menunggu sana-sini, akhirnya rombel kami, rombel 10, yang saat itu terdiri dari saya, Kak Nindia, Kak Bastomi, Kak Winda, Kak Chia, Kak Ajeng, Kak Nur, dan Kak Iza berangkat menuju SDN Jarak 1 di kecamatan Wonosalam setelah solat Isya. Dengan mengendarai motor, kami ber-8 menembus gelap dan dinginnya malam seperti hendak mudik lebaran. Kanan-kiri-depan-belakang penuh dengan tas dan bawaan kebutuhan dan barang-barang yang akan kami bagikan besok paginya. Menurut teman-teman yang telah survey, medan menuju ke sana cukup sulit. Setelah melewati jalan utama, kami melewati pedesaan dan sawah-sawah yang saya yakin jika kami melewatinya saat hari terang maka kami akan menjumpai pemandangan yang segar dan menyejukkan. Apalagi saat itu bulan sedang purnama.  Syahdu!

Udara Desa Wonosalam yang cukup dingin, seperti di Batu, menyambut kami yang saat itu sudah lelah dan mengantuk. Setelah 2 jam, akhirnya kami sampai di sekolah tujuan, tentunya setelah melewati jalanan menanjak yang wow! Untungnya sih jalannya sudah beraspal, kalau tidak, mungkin kami akan kesulitan melewati jalanan makadam dengan membawa perlengkapan. Berada di sekolah SD malam-malam begini dan menginap di ruang UKS mengingatkan kembali kenangan saya saat mengikuti persami di SD beberapa tahun silam. Dan malam itu, kami tidak bisa langsung tidur. Selain karena udara terasa dingin menggigit, kami juga harus menyelesaikan persiapan untuk besok seperti menggunting stiker cita-cita, mempersiapkan barisan huruf, menata snack, makan malam, sembari mengobrol, hingga jarum jam menunjuk angka 1, saatnya kami untuk tidur. Mempersiapkan tenaga untuk besok pagi.

Menjelang subuh, udara semakin dingin saja. Alarm dari HP kami yang kehilangna sinyalnya gantian berdering. Kami dikejutkan oleh 2 orang laki-laki yang baru saja datang. Entah siapa dan dari mana. Kata teman-teman, ini relawan siluman hahaha. Setelah bercerita dengan heboh petualanganya untuk sampai ke sini, barulah kami paham. Mereka memperkenalkan diri sebagai mas Ichul dan Mas Henky. 2 orang ini adalah fotografer yang ‘menyelundup’ di rombel kami. Setelah kesasar hingga pucuk gunung, melewati ladang dan hutan, membuat heboh pemilik rumah karena kaget mendapat tamu tengah malam, akhirnya mereka sampai juga dengan selamat di SDN Jarak 1 ini. Kocak banget deh! :D

Senin, 25 April 2016
Akhirnya pagi ini datang juga. Hari Inspirasi untuk SDN Jarak 1 Wonosalam. Yeayy! Setelah bersiap-siap dan sarapan bekal kami semalam, kami pun melakukan briefing terlebih dahulu sambil menunggu kawan-kawan kami lainnya yang baru datang pagi itu. Setelah semua lengkap, briefing selesai dan kami masing-masing telah mengetahui job desc kami. Untuk relawan pengajar ada saya, Kak Yuli, Kak Mega, Kak Wiwin dan Kak Bastomy. Untuk fasilitator ada Kak Chia (koordinator rombel 10 nih^^), Kak Ajeng, Kak Iffa, Kak Winda, Kak Kuswanto, dan Kak Luqman. Kemudian untuk relawan dokumentator ada Kak Nur, Kak Nindia, Kak Iza, Kak Ichul dan Kak Henky.

Selamat hari Senin! Seperti senin yang biasa kami lalui saat bersekolah dulu, senin ini kami mengikuti upacara bendera memperingati Hari Kartini. Sesuai dengan tagline Hari Inspirasi kami : Semangat Kartini! Para petugas upacaranya pun terdiri dari para siswi SDN Jarak 1. Oh ya, selain siswa-siswi SD, upacara ini juga diikuti oleh siswa-siswi SMP, karena SDN Jarak 1 ini juga merupakan sekolah satu atap dengan SMP. Ada 2 bangunan yang terpisah. Bangunan utama digunakan untuk SMP dan SD kela 5-6. Sedangkan bangunan satunya yang untuk menuju ke sana kami harus melalui jalanan turunan, digunakan untuk SD kelas 1-4. Seperti biasa, saat lagu Indonesia Raya berkumandang, saya selalu merasa merinding, apalagi dinyanyikan oleh anak-anak.

Selesai upacara dan sebelum memulai kelas, kami mulai perkenalan bersama anak-anak SDN Jarak 1 di lapangan kecil. Para siswa dan relawan tampak sangat antusias dan bersemangat. Apalagi setelah dikumandangkan jargon kami, “Cerdas, ceria, meraih cita-cita! Kelas Inspirasi Jombang, Semangat Kartini!”

Untuk giliran pertama saya harus masuk ke kelas 6. Seperti biasa, saya sudah mempersiapkan semacam RPP sebelum mengajar, realisasinya memang tidak harus selalu sama  dengan rencana, namun setidaknya itu bisa mengurangi nervous dan blank saat pertengahan mengajar. Seru sekali ya mengajar anak-anak SD. Ini pengalaman pertama saya mengajar SD. Mereka cukup antusias walaupun ada beberapa yang masih malu-malu. Alhamdulillah sesi pertama berjalan dengan lancar. Setelah saya ajak pengenalan peta dunia dan bendera, saya ajak mereka berlatih dan berpasangan cara menyapa (bonjour : selamat pagi) dan berterima kasih (merci) dalam bahasa prancis. Mungkin masih terasa asing di telinga mereka, namun dari tawa canda mereka, saya yakin mereka bersemangat apalagi setelah mendapat stiker dengan tulisan “bonjour”.  Setelah itu saya masuk ke kelas 3. Mereka lebih ceria dan bersemangat. Saya masih ingat ada seorang anak yang cerdas dan wawasannya luas. Saat teman-teman lainnya belum tahu dia sudah tahu dan bisa menjawab dengan tegas. Tak lupa pula seorang anak perempuan yang menangis karena tidak mendapat pasangan untuk latihan berdialog. Saya dan Kak Iffah sudah berusaha menghiburnya namun sapai akhir sesi tak kunjung reda tangisnya. Duh saya jadi merasa bersalah kan:’)

Lain kelas lain cerita, sampailah saya mendarat di kelas 4. Anak-anak ini juga ceria dan antusias. Saat berpasangan, ada satu anak perempuan dan satu anak laki-laki yang tersisa. Raut wajah anak perempuan itu mulai menunjukkan ingin menangis karena tidak mau berpasangan dengan anak laki-laki. Segera saya ajak ke depan bersama saya agar dia tidak jadi menangis. Di situ saya belajar bahwa kegiatan berkelompok atau berpasangan untuk anak-anak SD bisa dibilang masalah yang sensitif, dan saya pun jadi teringat masa-masa SD. Ketika saya tak mendapat kelompok atau dikelompokkan dengan teman yang tidak saya sukai, saya sudah ingin menangis. Jika kita mengingat itu semua, kita dapat memaklumi dan memahami kondisi dan perasaan mereka dengan lebih baik.

Sampailah kami pada acara penutupan. Kami membuat spanduk yang ditempeli cap tangan anak-anak menggunakan cat. Warna-warni dan indah, namun membutuhkan ketelatenan dalam membimbing dan mengarahkan anak-anak yang sudah mulai lelah dan kepanasan di lapangan sekolah. Salut untuk semua relawan. Setelah memberikan kenang-kenangan untuk sekolah, kami pun foto bersama. Sungguh kebersamaan yang nantinya akan menjadi kenangan, baik bagi kami maupun bagi anak-anak. Semoga sedikit yang dapat kami bagikan saat ini bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi masa depan mereka. Semoga mereka dapat meraih cita-cita yang diharapkan walaupun harus berhadapan dengan keterbatasan yang ada. Ada suatu kebahagiaan dan kelegaan bagi kami. Beraktivitas bersama mereka seperti member warna – warni keceriaan di antara deretan warna monoton rutinitas kami. Dan saya pun juga merasa terinspirasi dan belajar banyak dari kakak-kakak relawan yang lebih berpengalaman, yang telah membagi pengalamannya dan dapat bekerja sama dengan baik dan kompak. Terima kasih rombel 10, terima kasih SDN Jarak 1 Wonosalam, terima kasih Kelas Inspirasi Jombang 3. Sehari berbagi, selamanya menginspirasi. 

Salam inspirasi!  :)

Ceria Bersama para relawan dan siswa-siswi SDN Jarak 1 Wonosalam :D

Relawan rombel 10 

mengajar di kelas 6

aktivitas role play bersama siswa kelas 3

bersama siswa kelas 4


makan-makan sekaligus refleksi Kijo 3
dokumentasi foto : 
Abah Nurman ig : @mgsmultimedia / @nurmansyahdwicahyono



Wednesday, 20 April 2016

Road to Kelas Inspirasi Jombang 3

bersama para relawan KI Jombang 3 

Memberi tak harus menunggu kita harus kaya. Berbagi tak selalu menunggu ketika sukses. Justru dengan memberi akan membuat kita menjadi 'kaya'. Tak musti selalu kaya akan materi, namun kaya akan kawan, kaya akan pengalaman dan kaya akan ilmu menjadi suatu kebahagiaan tersendiri. Menjadi relawan adalah salah satunya.

Sudah lama sebenarnya saya ingin bergabung dengan kelas inspirasi. Saya tergoda dengan taglinenya yang berbunyi : "Sehari berbagi selamanya menginspirasi". Ya, kelas inspirasi adalah sebuah gerakan yang diinisiasi oleh alumni pengajar muda program Indonesia mengajar setelah kembali dari tugas mengajar di berbagai daerah di pelosok negeri. Kelas inspirasi ini saat ini telah tersebar di berbagai kota, ada KI (kelas Inspirasi) Jakarta, Bandung, Malang, Kediri, Jombang, Bali dan banyak lainnya. Dulu sebenarnya saya ingin sekali menjadi bagian dari para pengajar muda tersebut, namun karena suatu hal yang tak bisa saya tinggalkan, saya pun memendam perlahan-lahan impian tersebut. 

Bulan ini KI Jombag telah memasuki sesi yang ke-3. Saya tertarik dengan tema yang diadakan pada bulan ini yaitu Semangat Kartini. Saya pun mendaftar sebagai relawan pengajar. Relawan pengajar ini nantinya akan berbagi kepada adik-adik di bangku SD tentang profesinya masing-masing. Diharapkan adik-adik akan mendapatkan bayangan, seperti apa cita-cita yang akan mereka capai nanti di masa mendatang dan bagaimana cara mencapainya. Selain relawan pengajar, tim kelas inspirasi juga terdapat dokumentator (fotografer dan videografer) serta fasilitator yang akan mengatur dan mengonsep acara. 

Hari Minggu, tanggal 17 April lalu saya mengikuti briefing di kantor Kelurahan Kepanjen Jombang. Menyenangkan sekali saat itu saya bertemu dengan kawan-kawan baru dari berbagai daerah tak hanya Jombang saja yang memiliki minat yang sama dan semangat yang sama. Kemudian kami mendapat sambutan dari ketua KI, pendiri KI, serta dihadiri pula oleh para kepala sekolah tempat kami akan mengajar nantinya. Tak kalah pentingnya, hadir pula kakak-kakak alumni Indonesia Mengajar yang dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman selama menjadi pengajar muda. Tentu tak mudah bagi para relawan pengajar yang profesinya bukan guru atau dosen, oleh karena itulah mereka berbagi pengalaman dan kiat-kiat menghadapi anak-anak serta menghidupkan kelas dengan ice breaking. Acara berlangsung dengan meriah dan para peserta tampak antusias. Saya rindu sekali suasana seperti ini, di mana para peserta adalah orang-orang dari latar belakang dan profesi yang berbeda namun masih meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjadi relawan. Terakhir kali adalah pada saat bergabung dengan Bina Antar budaya AFS. Sebelum pulang kami berkumpul sesuai rombel (rombongan belajar) masing-masing. Saya berada di rombel 10 dan mendapatkan SD Jarak 1 di kecamatan Wonosalam. Menurut teman yang sudah melakukan survey, perjalanan ke sana cukup jauh dan memiliki medan yang cukup sulit untuk dijangkau. Ini akan sangat menyenangkan mendapat tantangan tersebut. Tak sabar rasanya untuk segera Hari Inspirasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 April nanti. Semangat saya kembali muncul ketika kita berinteraksi dengan mereka yang memiliki semangat yang sama ataupun lebih besar. Tema yang diusung pun sangat cocok dengan tema bulan ini : Semangat Kartini. Semoga program kami nantinya dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Sampai ketemu di cerita Hari Inspirasi nanti ya.... ^^ semoga menginspirasi.

 "When you learn, teach. When you get, give" (Maya Angelou)

20042016